Sebuah pada Minggu pagi, 7 Januari 2018. Meskipun

 

Sebuah
khabar mengejutkan datang dari Aljazair di awal Januari 2018 lalu, salju turun
di gurun Sahara. Anomali salju dengan ketebalan kurang dari 1 inchi di  pusat kota, dan mengendap cukup tebal menutupi
gurun terpanas dan terbesar ketiga di dunia, Ain Sefra. Ternyata fenomena alam
yang sempat diabadikan oleh fotografer Karim Boucheta sudah pernah terjadi
sebelumnya. Yuk kita simak kisahnya!

Ain
Sefra, Aljazair, adalah sebuah distrik dalam provinsi Naama dengan jumlah
penduduk sebanyak 35 ribu jiwa. Didirikan pada tahun 1881 sebagai kota garnisun
atau benteng pertahanan militer Perancis saat menduduki sejumlah wilayah di
Afrika. Distrik Ain Sefra dikenal dengan julukan “Pintu Gerbang Gurun Sahara”. Temperatur
normal Ain Sefra sekitar 370C dan turun hingga 300C pada
musim dingin dan telah mencapai rekor terendah di titik minus 100C.

Sedangkan
luas gurun Sahara mencapai 9,2 kilometer yang membentang dari Samudera Atlantik
hingga ke Laut Merah dengan suhu terpanas bisa mencapai 520C. Curah
hujan sangat kecil menjadikan gurun Sahara sangat kering, gersang, dan tandus. Kebayang
kan panasnya di sana? Kamu sangat beruntung bisa menyaksikan fenomena “Snow in
Sahara” ini.

Walaupun
bukan hal yang biasa, namun dalam 4 dekade terakhir sudah tiga kali salju
meliputi gurun Sahara. Kejadian langka di gurun Sahara pernah terjadi pada 18
Februari 1979, saat itu salju turun sekitar 30 menit. Pada 19 Desember 2016 dan
akhir tahun 2017 lalu salju kembali turun dengan ketebalan mencapai 40 cm dan
bertahan hingga satu hari.

Menurut
ahli cuaca, kondisi alam yang cukup ekstrim terjadi di berbagai belahan dunia.
Tekanan udara yang sangat tinggi di benua Eropa sebagai rentetan akibat badai
Eleanor menyebabkan udara dingin bergerak dari Afrika Utara ke arah Gurun
Sahara. Kemudian massa udara dingin naik sejauh 3.280 kaki dan terjebak di
dalamnya. distrik Ain Sefra yang dikelilingi Pegunungan Atlas. Serangan udara
dingin terus menerus datang dari Eropa. Hal ini yang menyebabkan salju kembali
membuat Sahara seperti kue karamel bertabur gula bubuk, pada Minggu pagi, 7
Januari 2018.

Meskipun
udara musim dingin menyebabkan suhu gurun Sahara menurun, Snow in Sahara tidak
berlangsung lama. Sore hari, suhu naik 5 derajat Celcius dan membuat lapisan
salju hanya bertahan kurang dari 12 jam saja lalu kemudian mencair. Momen
langka seperti ini membuat siapapun yang menyaksikan langsung kejadian tersebut
menjadi tersihir akan keindahan fenomena alam. Yes, cuaca ekstrim tidak
selamanya terlihat buruk, kan? Namun cuaca ekstrim Eropa ini juga berdampak
hingga ke benua Amerika dan Australia.

Jadi
kamu tertarik mengunjungi gurun Sahara dan menikmati petualangan
anti-mainstream di sana? Memang sih, fenomena salju di gurun Sahara tidak
setiap hari terjadi, namun gurun Sahara bisa menjadi destinasi travelling
pilihan yang berbeda. Kamu bisa berbaur menyaksikan aktivitas sehari-hari suku
Baduy yang ramah, menyicipi aneka kuliner khas Sahara, menyusuri gurun dengan
mengendarai unta atau jeep, camping dan menikmati indahnya langit Sahara di
malam hari, jelas membuat travelling ke gurun Sahara jauh lebih menantang jiwa
petualangmu. Survive di alam terbuka akan membuat kamu semakin PD!

Dari
Indonesia, kamu bisa ambil penerbangan ke Singapura atau Malaysia melalui
Airpaz.com, ada banyak pilihan maskapai menuju Maroko dari sana. Saat ini
Airpaz.com hanya melayani penerbangan Asia-Pasific, tapi bisa dipastikan bahwa
harga penerbangan terbaiklah yang kamu dapatkan. Aktifkan selalu fitur pengingat
harga sehingga kamu mendapatkan best deal price untuk melengkapi setiap
petualanganmu. Selamat berlibur!